Senin, 30 Maret 2009

Aku, cinta, dan borok




Aku


Aku adalah cinta yang tak mau mengaku

Yang hanya bisa menyiksa luka yang masih merah dan basah

Mengoreknya untuk menciptakan nanah

Dan menikmati busuknya sendiri

Hingga luka menjalar tubuh

Dan peluh membasuh menahan sakit

Tapi tak pernah dicuci atau dibalut

Dibiarkan infeksi, lantas membengkak dan membiru

Tapi hanya dibiarkan

Karena masih betah dalam kepura-puraan

Menikmati borok di luka menganga

Membiru, merah, bernanah

Dinikmati terus

Hingga saraf putus

Tanpa harus diamputasi

Rawamangun, 14 Mei 2007


Membaca berulangkali tiap bait dalam puisi ini, membuat ingatanku kembali pada kolase-kolase nostalgia dua tahun yang lalu. Reminisensi yang selalu membangkitkan sesuatu tentang kamu, kita, dan mereka. Saat-saat seperti keluarga kedua yang sekarang sudah tak terasa lagi, entah apa yang hilang.

Madah yang ditulis di sudut ruang redaksi ini mengungkapkan semuanya. Menerjemahkan sikap, jejak langkah, kota tua, puding coklat, bantal dan selimut, dan semua pergulatan batin yang menjadikanku sebagai pecundang. Mengalah bukan berarti kalah kan?? Mungkin kamu tau sedikit, tapi pasti tidak tahu tentang teror-teror, tatapan mata sinis, senyuman lirih, yang semuanya tertuju karena satu alasan, kamu.
Aku hanya bisa tersenyum di dapur sambil mengaduk-aduk sepanci puding coklat panas. Sambil menuang ke dalam cetakan, aku membuat taruhan lagi dengan batin tentang kamu. Pertanyaan mulai bermunculan dalam loyang yang nyaris setengah penuh. Namun jawabannya tak bisa segera didapatkan. Aku harus mencari jawaban lagi dalam adukan sepanci puding mangga....terus...terus...diaduk...seperti tukang sihir membuat ramuan, atau ahli nujum yang membaca ramalan dalam sebaskom air.

Aku jenuh. Jawaban lain kucari melalui untaian benang yang mereka pintal menjadi sarung dengan upah rendah juga bantal apek bau iler di sudut ruangan. Dan tanpa sadar kamu bisa bangun lebih segar esok pagi. Semuanya aku lakukan bergerilya dengan embun, yah.....mungkin saja ada setetes dua tetes yang bisa bantu aku menemukan jawabannya. Entah berapa kali cara itu aku lakukan, walau terkadang pakai cara lama lagi, mengaduk-aduk isi panci. Karena bukan Kahlil Gibran juga bukan Jalaluddin Rumi yang bisa menerjemahkan rasa lewat kata.

Lama, sampai tak terasa hampir setahun semuanya berlalu. Tatapan mata sinis, cemburu, halusinasi, ruang keluarga, dan fakta-fakta yang terbit dari belakang meja akan didekonstruksi dengan kemasan baru. Habis masa dan kamu akan pergi. Pada akhirnya kamu memang memberi jawaban, saat batinku menjadi kampiun atas pergulatan rasa tentang kamu. Aku mengalah dengan rasa. Sebuah simbol yang tak bisa diterjemahkan lewat kata ditangkap oleh sahabatku. Dia yang menerjemahkan raut wajah, tatapan mata, dan goresan panjang di antara dua pipi, entah benar atau tidak, tapi aku percaya.

Sekarang perjuanganmu dimulai di luar sana, membawa idealisme dan pemikiran tanpa embel-embel mahasiswa. Selamat datang di dunia yang brengsek...!! Huffff....kamu menularkan sifat dan cara-cara bertahan hidup agar aku kuat...Bukan cuma kamu, tapi kalian. Sedikit yang bisa aku ingat, karena sebagian sudah kubakar dan terbang bersama kepulan asap rokok, hanya satu kata yang mengendap, "GUDEL".



Tidak ada komentar:

Posting Komentar