Dari Batavia hingga Sunda Kelapa
Berkeliling Jakarta yang macet, panas, dan berdebu bukanlah perkara menyenangkan namun sangat berbeda kalau kita berjalan kaki malam hari mengelilingi kawasan Kota Tuanya. Seolah kita berada dalam setting jaman sejarah.
Itulah kesan yang pertama kali dirasakan saat mengunjungi kawasan Kota Tua Jakarta bersama teman-teman LPM DIDAKTIKA, Sabtu 16 Desember 2006 lalu. Menyusuri malam di Kota Tua dimulai dari menapaki jalan di kawasan Mangga Dua, sudah mulai terlihat deretan ruko usang diantara gedung-gedung baru. Wajah kota Jakarta kini telah berubah seiring perkembangan jaman, namun tidak demikian di Kota Tua. Terus melangkah, mata disuguhkan pemandangan Stasiun Jakarta Kota yang dibangun pada masa kolonial Belanda, lengkap dengan para pengojek sepeda tua atau sepeda kumbang yang biasa mangkal di sekitar stasiun.
Di sebelah kiri seberang stasiun, pandangan tertuju pada Museum Bank Mandiri, bangunan bergaya Art Deco dengan luas 21.509 m2. Rasa kagum terus membawa langkah kaki menuju Museum Fatahillah, museum yang kini bernama Museum Sejarah Jakarta.
Tak Ada Lapangan, Museum Pun Jadi
Di sekitar bangunan yang dahulu pernah digunakan sebagai kantor berita VOC ini ternyata banyak hal yang menarik. Mulai dari “Romeo and Juliet” yang asyik memadu kasih, tak peduli walaupun harus bersandar pada pilar museum atau duduk di bawah meriam kuno. Komunitas Scooters ( pecinta vespa) yang kongkow di halaman museum, hingga anak Kota Intan yang terpaksa bermain sepak bola di depan pintu masuk museum. Ironis memang. Ditengah pembangunan infrastrukrur di segala bidang, kebutuhan anak akan fasilitas olahraga seakan tak tersentuh pemerintah.
Sanut, salah satu dari sekitar dua puluh anak Kota Intan yang sedang bermain sepak bola menuturkan, bahwa mereka sudah dua tahun bermain sepak bola di depan pintu masuk museum. Biasanya mereka bermain dari pukul delapan malam hingga pukul duabelas malam. Anak berusia 15 tahun itu menjelaskan, alasan mereka bermain di depan pintu masuk musum karena tidak ada lapangan sepak bola. “Main di sini (museum-red) karena gak ada tempat. Sebenernya kita biasa main di kolong jalan tol dekat Kali Besar, tapi disana banyak batu, udah gitu bau sampah.” Hal senada juga diungkapkan Iko, 7 tahun. siswa kelas 3 SD Pinangsia 03 ini, ketagihan bermain sepak bola di depan pintu masuk museum kerena tidak banyak batu.
Dari Sanut pula diperoleh informasi, anak yang bermain sepak bola berusia 7 tahun, kelas 3 SD hingga 15 tahun, kelas 3 SMP. Termasuk Sanut dan seorang temannya. “Kita sering disalahkan karena disangka ngajak anak yang “kecil-kecil”, padahal mereka yang mau ikut. Klo gak diajak ngambek”, tambah anak yang pertama kali tertarik ikut bermain sepakbola di depan pintu masuk museum karena diajak teman. Selain bermain sepakbola dengan sesama anak Kota Intan, mereka ternyata sering bertanding dengan “anak pasar”, anak dari jalan Tongkol. Bahkan tak jarang mereka taruhan kecil-kecilan. Sanut yang kebetulan tidak ikut bermain sepakbola karena cedera sumringah, “ Hari ini kita juga ngadu, terus menang”.
Kesenangan yang mereka dapatkan disela-sela kegiatan mengisi waktu luang selepas sekolah dan membantu orang tua atau sekedar menghilangkan kepenatan di rumah karena dimarahi orang tua inilah, mereka kerap kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. “Kita sering dikejar kamtib, disuruh pulang. Kamtib suka bawa-bawa pentungan , kadang suka main kata-kata kasar. Salah kita juga sih. Inikan museum, bukan tempat main. Kadang takut ada yang rusak, jadi dimarahin”, ujar siswa kelas 3, SMP Perniagaan. Sanut juga menambahkan, bahwa mereka sering didatangi preman, yang untungnya, datang hanya sekedar untuk menonton saja.
Sungguh memprihatinkan. Ditengah usaha pemerintah untuk mempertahankan situs sejarah sebagai cagar budaya. Justru malah anak-anak bangsa sendiri yang mengancam rusaknya bangunan bersejarah karena digunakan sebagai tempat bermain sepakbola, kota semakin berkembang tetapi fasilitas tidak mencukupi. Namun mereka tidak bisa disalahkan, karena realitanya tidak ada tempat atau sarana olahraga yang bisa digunakan. Ibarat kata pepatah. Tak ada lapangan, museum pun jadi.
Saksi Bisu Itu Bernama Kali Besar
Rute kedua melewati Museum Wayang, kemudian melewati jalan di tepi Kali Besar. Kali yang berada di kawasan kantor-kantor dagang VOC dulu ini merupkan bagian kanal yang dibangun oleh J.P. Coen untuk sarana transportasi, benteng pertahanan, dan tempat mengalirkan air Sungai Ciliwung saat banjir.
Sejauh mata memandang, di sekitar Kali Besar banyak fenomena sosial yang tampak. Tidak hanya kalangan kelas atas yang ingin merasakan nikmatnya dugem di tengah hingar bingar diskotek, rakyat kelas bawah pun membuat tandingan orkes dangdut yang tak kalah ramainya. Tentu saja yang datang adalah warga kampung sekitar termasuk para pengojek sepeda tua. Seolah tidak mau kalah dengan “mami” dan “anak-anaknya” yang berusaha menggaet pelanggan di depan sedan mewah, para waria pun gencar menjajakan diri, nangkring duduk disepanjang pembatas Kali Besar sambil menggoda lelaki yang lewat didepannya, sungguh menggelikan. Para muda-mudi dari masyarakat kelas bawah juga terlihat nogkrong di sepanjang Kali Besar dan warung remang-remang. Tak ada bedanya dengan kaum borjuis yang mamadati café-café di pelataran parkir pinggir Kali Besar.
Fenomena tersebut sudah bisa menjelaskan, bahwa gaya hidup masyarakat kelas bawah tak dapat dipisahkan dari pengaruh gaya hidup kaum borjuis. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Kali Besar merupakan saksi bisu sejarah dan fenomena sosial yang ada di Kota Tua dari tempo dulu hingga kini.
Persinggahan Terakhir, Sunda Kelapa
Malam semakin lunglai. Warnanya yang hitam kian mencium bumi. Lepas dari Kali Besar, langkah kaki selanjutnya menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Pemandangan menarik lainnya ditemui ketika melewati sebuah jembatan jungkit yang lebih dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan tersebut dahulu dapat dibuka dan ditutup. Jenbatan tersebut dibuka bilamana ada kapal yang akan melintas, namun sekarang tidak digunakan lagi. Suasana di sekitar Jembatan Merah tak jauh berbeda dengan suasana sekitar Kali Besar. Tak jauh dari Jembatan Merah terdapat Menara Syahbandar.
Tiba di persinggahan terakhir, Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan yang berdiri sejak tahun 1752 ini tampak sepi pada malam hari. Tak ada aktifitas angkut maupun bongkar muat. Para awak kapal dan nahkoda tidur di geladak. Namun sensasi berbeda dirasakan saat mata dimanjakan oleh gemerlap lampu kota dari atas kapal yang sedang merapat.
Warisan Sejarah
Jalan menuju pulang menggunakan rute yang berbeda, melewati jalan Tongkol, jalan Teh, dan jalan Lada. Selain untuk memperkaya pandangan, juga menghindari kebosanan. Tak ada salahnya melihat lebih dekat bangunan-bangunan klasik yang telah menjadi bagian dari sejarah dan perkembangan Ibu Kota Jakarta. Kita akan mendapat pengetahuan baru tentang sejarah dan fenomena sosial Kota Tua.
Satu harapan yang terbersit dalam benak, berharap makin banyak pihak yang termasuk pemerintah yang peduli dengan keberadaan bangunan-bangunan tua dan bersejarah khususnya di Jakarta. Agar warisan sejarah bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.
Kenangan terindah ketika semua belum berakhir
Aku rindu memeluk kalian...
Aku rindu memeluk kalian...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar