Senin, 03 Januari 2011

Emisi Karbon di Tahun Baru


Emisi Karbon di Tahun Baru
Bukan pesta tahun baru namanya jika tidak ada pesta kembang api. Begitulah asumsi kebanyakan orang ketika menyambut tahun baru. Tahun baru yang diidentikkan dengan kembang api ini menjadi fenomena tersendiri di mata masyarakat. Pesta kembang api selalu disajikan dengan sangat indah sehingga menarik perhatian banyak orang. Pemandangan malam yang biasanya gelap gulita berubah menjadi malam yang penuh dengan warna-warni yang disertai letusan-letusan yang menambah euforia masyarakat. Pesta kembang api ini telah menjadi tradisi setiap tahun.
Hampir setiap negara di belahan dunia menyambut kedatangan tahun baru 2011 dengan pesta kembang api. Begitupun dengan Indonesia, negara beribukota Jakarta ini seakan-akan tak mau ketinggalan merayakan acara pergantian tahun. Antusias masyarakat dalam menyambut tahun baru begitu besar. Hal ini terlihat dari partisipasi masyarakat dalam acara pesta kembang api tersebut. Masyarakat Jakarta misalnya, mereka berbondong-bondong bergerak ke beberapa titik lokasi perayaan acara pergantian tahun seperti Bundaran Hotel Indonesia dan Monumen Nasional untuk menyaksikan indahnya pesta kembang api. Selain itu, Sejumlah daerah juga tak mau ketinggalan merayakan acara tahun baru. Seperti Kota Medan dan Makassar yang juga merayakannya dengan pesta kembang api.(Kompasiana, 2/1/11)
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kembang api di malam pergantian tahun adalah hal yang wajar. Memang bukan suatu keharusan. Ada pula yang beralibi kalau pesta kembang api merupakan seremoni penghilang penat setelah setahun beraktifitas. Sungguh, euforia semu tahunan ini seolah menutup mata. Menjelang pergantian tahun, saat detik-detik setelah 00.00, hampir seluruh belahan bumi melontarkan sekian ratus kilogram bahan peledak kembang api. Lima belas menit saja, kita asumsikan momen kembang api itu terjadi sesingkat itu, berapa banyak ya, polusi udara yang terjadi saat itu?
Tanpa disadari, efek jangka panjangnya menyebabkan ketidak-nyamanan bagi kehidupan manusia dan lingkungan hidup di sekitarnya atau mengakibatkan rusaknya lingkungan. Polusi yang ditimbulkan dapat berupa bahan kimia atau energi, misalnya kebisingan, panas atau cahaya. Ini disebabkan bahan pembuat kembang api terdiri dari bahan kimia yang tidak stabil, misalnya pada oksidator. Oksidator diperlukan sebagai penghasil oksigen untuk memulai proses pembakaran. Bahan oksidator yang dipakai biasanya dari golongan nitrat, klorat, ataupun perklorat. Awalnya nitrat dipakai sebagai bahan oksidator dan senyawa yang sering dipakai adalah kalium nitrat. Penguraian kalium nitrat adalah sebagai berikut: 2 KNO3 -> K2O + N2 + 2.5 O2. Tidak semua oksigen dari KNO3 diubah menjadi oksigen, dan reaksi berjalan tidak begitu ekstrim sehingga mudah di kontrol. Untuk mendapatkan reaksi yang ekstrim diperlukan oksidator yang lebih kuat dibandingkan nitrat, yakni Klorat. Reaksi yang terjadi sangat ekplosif dan menghasilkan suhu yang tinggi. Sayangnya klorat tidak stabil dan diperlukan penanganan khusus dalam proses pembuatan kembang api. Selain bahan oksidator, ketika kembang api meledak, hasil oksidasi bahan pewarna kembang api dari campuran logam, ikut menguap ke udara.[1]
Namun pesta tahun baru tentunya tak selalu dirayakan dengan pesta kembang api. Hal ini terlihat dari perayaan yang dilakukan oleh sejumlah orang ataupun komunitas di beberapa lokasi. Seperti undangan komunitas Majelis Rasulullah yang saya lihat dalam spanduk di tikungan bypass Rawamangun. Komunitas ini merayakan acara tahun baru tidak dengan pesta kembang api, melainkan acara pengajian yang dilakukan di Gelora Bung Karno. Ada pula yang merayakannya dengan acara makan bersama. Kebanyakan dari mereka yang merayakan acara tahun baru tidak dengan pesta kembang api beranggapan bahwa pesta kembang api bukanlah hal yang bermanfaat dan memakan banyak biaya. Saya pribadi berpendapat, kembang api di malam tahun baru itu seperti ketupat saat Idul Fitri. Bukan sesuatu yang wajib ada, tapi merupakan tradisi dan ciri khas saja.

Malam pergantian tahun saya habiskan di rumah bersama keluarga, ikut duduk di beranda menyaksikan letupan kembang api besar dari selebrasi yang berpusat di lapangan sepakbola Rw. Namun tak semua menikmati itu. Dentuman kembang api membuat ibu saya terkejut lalu menutup telinga dengan bantal. “Suara kembang api seperti suara bom di Irak,” katanya. Selain itu bau mesiu dari bahan peledak dan asap kembang api terlihat jelas di atap rumah. Yeni, kawan baik saya di facebook pun merasakan hal serupa. Di statusnya ia menulis, “Pengen cepet2 thn baru biar anak saya bs tidur tanpa tergangu suara petasan dan terompet...berapa jam lagi yach??sabar ya de.” Ini hanya sebagian kecil suara, bahwa tak semua orang merasa nyaman, walau dipaksa dengan pemakluman.

Efek suara mungkin hanya bersifat sementara. Namun setelah seremoni selesai, banyak yang tak menyadari, kembang api telah ikut menyumbangkan ribuan karbon ke udara, kemudian terakumulasi dan memperbesar efek rumah kaca. Ironis. Kontras sekali dengan perdebatan panjang dan isu perubahan iklim yang diagung-agungkan. Setelah perdebatan panjang di Kopenhagen soal climate change yang entah seperti apa ujungnya, yang muncul hanyalah wacana dan wacana lagi. Mungkin para aktivis itu pun bersukaria menyambut tahun baru dengan menikmati kembang api di langit kota masing-masing.

Mengutip perkataan kawan Tiffa dalam blognya, “Emang ya, global warming dan climate change itu, cuma isu yang seksi buat sebagian orang yang enak dinikmati rame2, dijadiin kecengan sejuta umat. tapi mungkin setelah tau selukbeluknya, luar dalemnya kaya apa, cuma segelintir yang berniat untuk betul2 meminang dan menjadikannya pasangan hidup.” Pada akhirnya green living hanya sebatas mimpi yang membumbung bersama asap. Saya bukan ingin melontarkan nada miring tentang bentuk ekspresi masyarakat untuk menyambut tahun baru. Bukan pula memberikan suatu pembenaran. Akan tetapi semua itu tentunya kembali lagi pada kesadaran kita masing-masing dalam menanggapi hal tersebut, kalau masih cinta bumi.

Depok, 3 Januari 2011
22:22 Wib.


[1] Disarikan dari http://belajarkimia.com/kimia-kembang-api/