Jumat, 31 Desember 2010

Cuma Catatan Desember.....



Cuma Desember...
Dari 12 bulan yang dilalui selama tahun 2010, cuma Desember yang bisa dibilang bulan paling sial. Bukannya nggak bersyukur, tapi jujur di bulan kelahiran gw mengalami kejadian-kejadian yang cukup bikin syok. Mungkin dari rangkaian kejadian selama setahun, yang paling membekas ya cuma Desember. Kejadian beruntun yang membuat gw menyimpulkan bahwa hidup adalah gado-gado, bukan ayam goreng, bukan rujak, atau sate kambing....
Diawali dengan kejutan pertama....malam menjelang tanggal 1 Desember pukul 22.30 wib, nyokap yang memang sudah sakit tiba-tiba jatuh terpelanting di rumah. Sontak kaget, langsung lari ke rumah tetangga terdekat untuk minta pertolongan. Untungnya ada tetangga yang berprofesi sebagai dokter, kemudian melakukan pemeriksaan awal. Gw langsung telepon sepupu yang rumahnya dekat, masih di Depok juga, suruh datang ke rumah. Malam itu juga nyokap dibawa ke rumah sakit. Sebagai anak sematawayang gw mesti ambil keputusan mau dibawa ke rumah sakit mana, tetangga yang ikut ngoceh bikin situasi tambah panik. Pertimbangan jatuh ke RS Sentra Medika, karena ada dokter keluarga. Pukul 23.30 wib sampai di rumah sakit, di tengah kekhawatiran gw tambah kaget dengar biaya rumah sakit yang segitunya, kuras tabungan bersama ternyata juga nggak cukup. Yaudahlah yang penting masuk dulu, dirawat dulu walau konsekuensinya KTP gw mesti ditahan pihak rumah sakit sampai kekurangan bisa dilunasi.
Panik, kaget, sedih, rasanya nggak karuan, ditambah bingung mesti tandatangan banyak surat. Surat persetujuan dokter, surat rawat inap, surat persetujuan pasang infus, bolak-balik ke lab, banyak lah... malam pertama akhirnya nggak tidur sampai pagi, siang sampai malam besoknya juga nggak, karena mesti bolak-balik nebus resep obat. Entahlah, gw hadapi aja mesti nggak ada tempat bertanya, nggak ada orang yang bisa gw peluk buat numpahin air mata, karena gw sendirian. Om dan tetangga pulang...tersisalah gw dengan segala kebengongan dan kebingungan. Hari pertama dan hari kedua di rumah sakit, keadaan masih sama. Sampai gw lupa ambil KTP, setelah biaya rumah sakit dilunasi, KTP baru diambil di hari kedua. Gw jaga sendiri, 24 hours, tanpa pergantian shift. Hanya dapat bonus tidur dua jam dan mandi sekali sehari karena banyak yang besuk di rumah sakit dan mulai terbiasa dengan keadaan. Hari ketiga nyokap sudah membaik dan alhamdulillah boleh pulang. Besoknya gantian, gw yang tepar... memang sudah kewajiban anak untuk berbakti terhadap orangtua.
Di Desember gw juga dapat kejutan lain. Lagi ngilangin mumet di mall tiba-tiba di telepon HRD penerbit yang lamarannya sudah gw kirim antah-berantah minggu yang lalu, sudah lupa, tidak memenuhi kualifikasi lamaran tapi ternyata dipanggil. That’s my luck... kemudian datanglah gw memenuhi panggilan dalam keadaan sakit. Dikira interview ternyata ada tes yang susahnya minta ampun, dah gitu saingannya berat, sempat ngobrol juga dengan orang yang pernah melamar di seluruh penerbit di Jakarta (ngakunya sih gitu)..wowww..gw ngeper, yang tadinya PD melambung langsung berasa jongkok. Kaget banget liat soal, ada psikotes, num 26, fisika, matematika, terjemah bahasa Inggris, logika gambar, dan terakhir editing naskah. Yang bisa dikerjakan dengan PD, cuma terjemah bahasa Inggris, logika gambar, dan editing naskah. Pulangnya berasa bodoh karena soal hitungan yang banyak, makin berasa gw gak pintar berhitung. Kepala gw ngebul, sakit banget. Dah gitu nyebrangnya jauh, nggak berani nyebrang akhirnya mutar naik angkot, ditambah lagi hak sepatu gw copot, rusak, jebol, koplak-koplak di jalan, turun angkot kehujanan, dan ditutup dengan belanja sendal darurat di mall dekat rumah, makan enak, pulang, tidur. 1..2...3...pejamkan mata Anda, lupakan semua!
Setelah rangkaian kejadian besar adapula kejadian kecil. Bulan ini, keadaan sosial membaik, tapi majunya perlahan banget. But, so far gw sudah berusaha memperbaiki semuanya. Walau akhirnya yang ingat ulang tahun gw cuma satu orang. Dan rasanya semua bertambah kacau, kemudian memutuskan buat jadi orang budeg saja...ya mesti banyak belajar lagi lah.. birthday tahun ini tetap istimewa, karena ada KABITA COMMUNITY yang masih eksis sejak awal terbentuk dan rekor hadiah paling istimewa selama ulangtahun masih dipegang oleh mereka...my beloved friends ^__^
Hmmm...kejutan terbesar memang disumbangkan oleh peristiwa masuknya nyokap ke rumah sakit, tapi KEKAGETAN terbesar terjadi sehari setelah hari ibu, disumbangkan oleh mas-mas gondrong berambut ikal, tinggi besar, dan berjaket kulit nggak jelas yang gw lihat tengah malam lagi ngintip pintu kosan siap-siap mau ngembat motor (saking kaget ga pake titik koma). MALING! Gw liat MALING.... seumur hidup baru sekali itu gw liat MALING motor dengan mata kepala gw sendiri. Tengah malam liat pagar kosan terbuka dah gitu ada “PENAMPAKAN” pula. Antara takut dan berani (gimana tu yah) gw bangunkanlah lelaki satu-satunya di kosan. Berbekal senapan tanpa isi (hadeeh...) dan celurit, turunlah ia dari lantai dua menghadapi maling. Mau teriak tapi rasanya terkunci, cuma bisa telepon tetangga depan rumah yang dibanguninnya susah tapi untung terbangun juga. (Dibaca dengan nada komentator sepakbola) Lalu terjadilah bacot-bacotan (bahasanya jelek banget dah) antara si lelaki dan maling yang isinya, “Gw tembak lu,” kata maling. “Tembak aja kalo mempan,” kata si lelaki. Dan kemudian si maling kedua mengalihkan perhatian dengan menyalakan mesin motor mereka dan terjadilah lemparan celurit ke arahnya kemudian maling pertama meninggalkan motor yang diincar lalu keluarlah teriakan MALIIIING...MALINGGG..MAAALLLIIIIING...!! yang melebihi TOA masjid dan kedua maling itu pergi lalu warga berdatangan dan yaaakkkk...gw pingsan.. T__T” karena kaget...
Dua hari setelah kejadian, gw gak bisa tidur. Sensitif baget kalau dengar suara di tengah malam. Tapi kata pepatah, sahabat itu bisa jadi obat. Lalu pergilah gw bersama sahabat-sahabat yang dipertemukan dalam satu rumah namun terpisah karena ibu tiri yang menaikkan uang kosan. Malam yang fun..bersama perempuan-perempuan “kesepian”. Yang satunya “jauh”, yang satunya “aku masih kuliah”, dan satu lagi “sibuk”. Jadilah kita makan-makan dilanjutkan dengan menggoda orang-orang yang “nggak kesepian” di pantai dan sukses menerbangkan lima pasang menuju tempat lain..haha.. Tapi ada hal sedih dan akhirnya malam ditutup rangkaian kalimat:
Kita di tempat yang sama
Di malam yang sama
Di pasir putih yang sama
Melihat kembang api yang sama
Dan mendengar musik yang sama
Tapi kita tak bisa bertemu...
namun aku selalu merasa bersama
Karena kita menghirup udara yang sama
Setelah itu, gw merasa hubungan mengalami perubahan,tiba-tiba, cuek. Mungkin Cuma perasaan aja kali yah (semoga). Jadi mesti tetap bersyukur... pulangnya dapat berita nggak enak lagi, tetangga yang rumahnya berdekatan ternyata kemalingan juga. Speechless-lah sayahhh....
Menjelang tutup bulan (bisa jadi istilah baru nggak ya?) kesalahan manajemen membuat daku terpaku merana meratapi dompet (lebay)..... Di tanggal 29 Desember, saat semua tulisan ini ditulis, krisis moneter menyebabkan gw menabung duapuluh lima ribu untuk memancing keluar dua puluh lima ribu di ATM...haha... tetap aja, ujung-ujungnya ngutang makan di warung (sumpah malu banget), dan mesti belanja tambahan karena insiden sabun di botol 450ml yang isinya tumpah semua. Bukan hanya itu, ada kejutan lain sih..tapi yang ini membahagiakan... sore-sore buka simcard hp yang mati sejak pagi...ting..tung..ting..tung...masuk satu pesan dari HRD penerbit, yang isinya gw lolos tes seleksi dan dipanggil untuk interview. Believe it or not but I must believe.... kalo inget itu soal tes isinya ssssuuuuuussssaaaahhhhhh bangeeetttt, apalagi buat gw yang lemah itung-itungan...yang jawab sekenanya...walau mikirin ongkos buat besok, gw tetap bersyukur, Alhamdulillah ya Allah. Bismillah..berangkat walau dengan sepatu pinjaman. Semoga besok gw bisa diterima kerja.
# Part 2...ditulis 31 Desember 2010
Wawancara sukses, tapi kaki gw juga sukses lecet karena sepatu. Maaih ada satu tahap lagi, kalau interviewnya lulus. Semoga... Tetap berpikir kalau rezeki di tangan Tuhan. Semoga takdir di tahun depan lebih baik... akhir Desember ini benar-benar bingung dengan sikapnya. Entahlah.. maybe mesti jaga jarak. Cuma mau bilang kalau aku kangen kamu setiap hari, semoga kamu nggak berubah. Masih cinta kamu apa adanya... ^__^ Malam tahun baru seperti biasa, berdoa saja.. Nggak neko-neko dan nggak mau ikut campur urusan orang lain. Gw pikir kayanya gw terlalu baik sama orang, sampai hati ini kadang nggak sehat. Resolusi tahun depan ada tiga, lulus, dapat kerja, dan langsing..hehe. Tuhan, banyak harapan baik kuhadapkan padamu...
Meski mungkin ada yang berpikir, ini semua keluhan, tapi gw anggap ini sebuah curhatan belaka. Gw cuma ngerasa awal bulan, tengah, dan akhir, banyak kejutan-kejutan hidup yang waktnya berdekatan sampai gw nggak sempat napas. Tapi itu mengajarkan gw supaya lebih dewasa, berpikir cepat, dan lebih memahami cara-cara bertahan hidup. Gw tetap bersyukur atas kehidupan yang bermacam rasa ini. Semua kejadian pasti ada hikmahnya, harus tetap bersyukur, ikhlas, optimis, keep strugle and fight, karena bagaimanapun gw percaya Tuhan bekerja dengan caraNya yang “misterius”.

Minggu, 12 Desember 2010

Karinding




Dari Sawah Turun Ke Hati
Harus diakui, tidak banyak yang mengenal permainan sekaligus alat musik tradisional Sunda, Karinding. Padahal dulu fungsi Karinding selain sebagai pengusir kejenuhan petani juga sebagai pemikat lawan jenis.
Karinding lekat dengan petani Sunda. Alat musik tradisional yang dikategorikan sebagai permainan rakyat ini, menurut legenda sekitar, sudah ada di tanah Pasundan sejak 300 tahun lalu. Alat musik ini beruntung masih bisa ditemukan di Kampung Citamiang, Desa Pasirmukti, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Sekarang, satu-satunya seniman Karinding yang tersisa adalah Oyon Eno Raharjo. Hingga sekarang hanya Oyon saja yang bisa memainkan Karinding dengan baik. Secara turun temurun ilmu permainan Karinding didapatnya dari mendiang Mbah Kaman era 1930-an. Estafet berlanjut ke Murniah di era 1945. Setelah itu diturunkan pada Oyon pada 1954. Tahun 1966, Oyon mulai membuat grup dan merekrut pemain.
Di masa itu ada empat orang pemain Karinding, yaitu Ki Karna, Sugandi, Solihin, dan Dudung. Tak cukup dengan grup, Oyon lalu mendirikan Sanggar Sekar Komara Sunda agar seni tradisional ini tetap lestari. Sanggar sempat terhenti karena sebagian pemain meninggal dunia. Mulai tahun 2003, usaha menggeliatkan kesenian Karinding dimulai lagi. Inilah fase kedua kebangkitan Karinding. Kini sudah ada tujuh orang yang berminat menjadi penerus Oyon.
Karinding di Kampung Citamiang terbuat dari kawung saeran (pohon aren-red). “Bahannya diambil dari kawung yang sudah tua dan setengah kering, humareupan, karena bahan yang kering sulit dibentuk,” jelas Oyon. Kawung saeran berbeda dengan pohon kawung biasa. Pohonnya pendek-pendek dan jarang diambil niranya. Pembuatan Karinding cukup sulit. Tidak semua orang bisa. Dari lima Karinding yang dibuat dalam satu hari paling bisa didapatkan satu Karinding yang cocok dimainkan.
karinding“Cara buatnya lumayan lama. Enaunya dikeringkan dulu lalu dibelah, kulit luarnya jangan dibuang sampai tebal 5 cm ke dalam daging enau. Keringkan dulu, bisa sampai 2 minggu, “ papar Sule, aktivis budaya Sunda.
Karinding tidak bisa dibuat dengan kawung basah, karena saat kering kawung akan cekung dan tidak berbunyi. “Alat yang digunakan yaitu, peso raut, bedog, peso leutik yang tajam untuk membuat buntut lisa,” tambah Oyon. Rentang antara bagian pahul dan buntut sejarak dua jari orang dewasa (jari telunjuk dan jari tengah) dan untuk buntut lisa cukup seukuran jari telunjuk saja. Proses pembuatan yang rumit menyebabkan alat musik ini semakin jarang ditemui.
Menurut Sule, pembina Sanggar Awi Hideng, pembuat karinding terakhir adalah almarhum Ki Karna. Ki Karna tutup usia tahun 2005, tepat setelah festival musik tradisional di Bandung. Dua tahun setelah Ki Karna meninggal, belum ditemukan lagi orang yang bisa membuat karinding.
Setelah ditelusuri ke desa asal berkembangnya Karinding, Desa Cikondang, Kecamatan Cineam, ternyata masih ada yang bisa membuat Karinding. ”Namanya Mamad, umurnya sekitar 35 tahun. dia lahir di Cikondang. Kakeknya masih menyimpan Karinding,” tandas Sule coba mengingat-ingat.
Dahulu di Cikondang ada semacam keyakinan, Karinding adalah alat individual yang digunakan sebagai alat komunikasi antar remaja. Dari sana diketahui, bahwa orang dari Cikondang bisa memainkan Karinding. Di Cikondang, main karinding ibarat loncat batu di Nias, kalau sudah bisa main karinding berarti dia sudah dewasa dan boleh menikah.
Gianjar, peneliti karinding dari Komunitas Kabumi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), memaparkan sebenarnya Karinding ada dimana mana. Bahannya ada yang dari kawung dan bambu. ” Kalau yang dari bambu biasanya khas dari Garut, nah kalau yang dari kawung ini yang khas Cineam. Ada juga yang mengatakan lagi kalau yang kawung ini untuk cowok, dan yang bambu untuk cewek,” tambah pria yang juga perajin pisau ini.
Hanya satu kunci nada yang bisa dimainkan Karinding. Oleh karena itu, Karinding mesti dipadukan dengan alat-alat musik tradisional (seperti angklung dan celempungan) untuk menghasilkan harmonisasi nada. Nada Karinding sangat ringan dan rendah. Memiliki empat bagian, yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada yang disebut buntut lisa, lalu buntut sebagai pegangan. Bagian tengah yang disebut pahul berfungsi untuk mempercepat getaran dan bagian ujung yang disebut hulu sebagai sumber getaran. Hulu jika dipukul oleh tangan akan menggerakan buntut lisa. Sim salabim, keluarlah nada dari alat Karinding.
Soal bunyi dari bahan bambu dan kawung tentu saja berbeda. Sule berpendapat bunyi Karinding bambu lebih keras dari Karinding kawung. Karinding bambu dimainkan dengan cara dipetik tetapi sedangkan karinding kawung disentir (dipukul-red) sehingga lebih nyaring. Untuk perawatan biasa menggunakan kemiri yang dihaluskan, lalu dioles ke serat buntut lisa. Kalau buntut lisa menurun, harus diangkat lalu dioleskan minyak kemiri. Menyimpannya pun tak bisa sembarangan. Supaya suara tetap bening, buntut dilubangi dan diberi tali lalu digantung di atas tungku.
“Karinding harus sering dipanaskan. Pengeringan tidak dijemur di bawah matahari karena suara akan tidak nyaring. Tapi diikat dengan seutas tali dan dikeringkan di atas tungku, diunun na luhur hawu,” papar Oyon. Jelas saja, jika semakin hitam Karinding maka semakin tua pula umurnya.
Uniknya, sampai sekarang, pemain Karinding harus handal mengatur pernafasan dan pandai mengolah nada. Karinding tidak seperti alat musik lain yang memiliki ketukan tertentu. ”Karena karinding terdapat dua suara. Saat dimainkan berbeda, saat menggunakan resonansi tenggorokan, ditarik, hasilnya beda,” tutur Oyon.
Sule menambahkan, kunci untuk menghasilkan suara pada karinding, terletak pada lokbangkong (amandel-red). “Karindingnya sendiri sudah menghasilkan suara. Kemudian karena lokbangkong-nya membesar dan mengecil, maka nada yang dihasilkan pun ada nada tinggi dan ada nada rendah.“
Lagu yang dimainkan dapat berupa lagu khusus maupun sederhana, biasanya ditambahi syair dan pantun. Lagu-lagunya antara lain Rayak-Rayak, Nanyaan (melamar istri), Megapudar, Sieuh-Sieuh, Jeung Jae, dan Karinding.
Bagi masyarakat Sunda, khususnya petani, Karinding memiliki peran penting. ”Pada jaman dahulu para petani biasa menunggui sawah dengan mengusir hama. Salah satunya dengan Karinding itu,” jelas Oyon.
“Tapi ada lagu yang tidak boleh dimainkan malam hari, karena bisa mendatangkan orang hutan,” tambah pria kelahiran Tasikmalaya, 12 Maret enam puluh tujuh tahun yang lalu. Lagu Dengkleng tabu dimainkan dengan Karinding pada malam hari, karena menurut mitos lokal bisa mendatangkan macan Siliwangi.
Asal mula karinding sendiri masih menjadi pertanyaan. “Orang yang disini tau bahwa yang membuat karinding ini adalah seorang pangeran, yakni Kalamanda,” tutur Sule. Pangeran Kalamanda ini dipercaya membuat alat musik yang mirip dengan hewan yang disebut kakarindingan, untuk menarik perhatian lawan jenis.
Namun setelah dilacak, Sule mengatakan asal-muasal Karinding tertulis dalam naskah Sunda yang paling tua, Siksakandang Karsian. “Alat alat seperti angklung, kujang, karinding dan lain lain sudah ada ditulis disitu pada zaman didirikannya kerajaan Padjajaran.”
Berdasarkan Kamus Ensiklopedi Sunda, alat musik tradisional Karinding ternyata lahir karena cinta. Konon, Kalamanda jatuh hati setengah mati kepada seorang putri menak, Sekarwati. Ketika itu, orang tua si remaja putri yang dari kalangan bangsawan memagari ketat anaknya. Mereka dipinggit.
Kalamanda gelisah. Sudah sekian lama ia memendam rasa cintanya kepada Sekarwati. Akhirnya terbetik dalam benaknya membuat alat untuk berkomunikasi. Dari pelepah nira atau kawung, Kalamanda membuat sebuah waditra, yang kini dikenal dengan nama Karinding.
Alunan suara yang dihasilkan dari getaran sembilu kawung yang pipih itu mampu merasuk sukma Sekarwati. Akhirnya Kalamanda pun bersanding dengan gadis idamannya itu. Kalamanda menamai alat ciptaannya itu sekenanya saja, yakni Karinding. Wilayah Cineam ketika itu masih berupa rawa-rawa.
Di lingkungan seperti itu, hidup binatang sawah kakarindingan. Masyarakat di sekitar pesawahan menyukai binatang itu karena bentuknya lucu. Tentu saja sang gadis pujaan termasuk yang menyenanginya juga. Dengan spontan, Kalamanda menyebut alat musik yang dibuatnya dengan Karinding. Para pemuda lalu mengikuti jejak Kalamanda.
Yang menjadi khas adalah tiap karinding tidak bisa sama resonansinya, ”Jadi kalau misalnya kita buka pintu jadi si wanita sudah tau pasangannya dari suara dari cara mukulnya sudah tau,” papar Sule. Kini, binatang itu kini sudah tak tampak lagi. Yang membuat kita miris adalah anak-anak muda sekarang, sudah tak mengenal wujud binatang itu. Bahkan, nama seni Karinding pun masih terdengar asing.
Oyon menjelaskan, karinding di jaman sekarang memiliki dua buntut lisa, berbeda dengan karinding di jaman Kalamanda. ”Asal mulanya, buntut lisa satu, mengikuti bentuk kakarindingan.”
Saat ini Karinding bukan lagi alat musik yang fungsinya sebatas untuk mengusir hama, atau pemikat hati wanita tapi sudah menjadi bagian dari alat musik masyarakat sunda, walaupun masih terkesan eksklusif. Karinding hanya tampil di acara tertentu saja. Semisal acara di malam bulan purnama atau jika ada panggilan dari birokrat. Terlepas dari itu, tidak banyak yang tahu bahwa Karinding sudah menjadi salah satu koleksi museum di Jepang, sementara di negeri sendiri keberadaannya masih belum dilirik.