Selasa, 21 April 2009

Aku Akan Memilih? Maybe Yes, Maybe No...

Maybe yes, maybe no! Mungkin iya, mungkin juga tidak Itu jawaban gw saat seorang kawan bertanya, " Lo besok nyontreng ga?" Hmmm....buat gw nyontreng bukan hal yang istimewa. Entah kenapa, nyontreng atau apalah bahasanya 10 tahun lagi, dianggap hal yang istimewa. Dengan alasan demokrasi, MUI mengeluarkan fatwa, bahwa golput itu haram sodarrra-sodarrraa! Mungkin saking takutnya kalo penduduk Indonesia semuanya berubah menjadi golput, karena sudah gak percaya sama calon pemimpin.

Jujur, hingga menapaki usia ini (cie elah menapaki...) gw tidak pernah memilih dalam pesta demokrasi (katanya gituuu...padahal kenyataannya??). Baik dalam lingkup Nasional, seperti Pemilu Legislatif kemaren (Gw punya 2 DPT loh....JakTim & Depok), ataupun lingkup kampus. Seperti Pemilihan Ketua BEMJ, BEMF, BEMU, atau Pemilihan Rektor yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Pernah sekali masuk bilik suara di kampus, tapi gw pilih semuanya. Gw gak milih karena gw pernah kecewa, jadi gw gak mau milih lagi. Buat gw semua sama, alasannya untuk kesejahteraan, untuk perubahan,..bla bla bla, padahal sudah jelas orientasinya kekuasaan dan gaji tentunya. Liat aja sekarang banyak caleg yang jadi gila termakan obsesi. Mudah-mudahan kandidat-kandidat di kampus gak ikutan gila. Entah di PilPres atau Pemilihan Rektor nanti, gw milih atau gak, belom tau.

Gw belom pernah milih di kampus.....karena percuma juga. Tapi gw punya alasan...
Memilih tidak akan membuat gw tidak geret-geret kursi ke kelas, karena kelas tempat gw kuliah kursinya tidak sebanding dengan kuota.

Memilih tidak akan membuat kampus bebas banjir.

Memilih tidak akan membuat dana IDB atau utang luar negeri lain, gak masuk ke kampus. Judulnya aja "UNJ Di Bawah Bayang-Bayang Utang" (Rostrum, Media Indonesia 19 Agustus 2008)


http://mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-08/2008-08-19_21.pdf.

Memilih tidak akan membuat kenyamanan di perpustakaan lebih diperhatikan. Luarnya doang bagus (itu juga duit boleh ngutang), dalemnya, manajemennya, koleksi bukunya... Ajigile.... ****Sensor, ga tega ngomongnya****)

Memilih tidak akan membuat 'mereka' serius memperjuangkan agar RUU BHP tidak disahkan

Memilih tidak akan membuat nasib orang-orang kecil, seperti satpam, pegawai kebersihan, pedagang ex Kansas menjadi lebih baik (kalau tidak peraya silahkan wawancara sendiri)


Kapan gw menggunakan hak pilih gw? Jawabannya, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang..du..du...du..du..du... (Hehe, lirik lagu Mas Ebiet)
Gw bukan golongan manapun, atau aktivis gerakan apapun. Tapi gw cuma ingin bilang....
Tidak memilih juga pilihan kawan!



Menyusuri Malam di Kota Tua


Dari Batavia hingga Sunda Kelapa
Berkeliling Jakarta yang macet, panas, dan berdebu bukanlah perkara menyenangkan namun sangat berbeda kalau kita berjalan kaki malam hari mengelilingi kawasan Kota Tuanya. Seolah kita berada dalam setting jaman sejarah.
Itulah kesan yang pertama kali dirasakan saat mengunjungi kawasan Kota Tua Jakarta bersama teman-teman LPM DIDAKTIKA, Sabtu 16 Desember 2006 lalu. Menyusuri malam di Kota Tua dimulai dari menapaki jalan di kawasan Mangga Dua, sudah mulai terlihat deretan ruko usang diantara gedung-gedung baru. Wajah kota Jakarta kini telah berubah seiring perkembangan jaman, namun tidak demikian di Kota Tua. Terus melangkah, mata disuguhkan pemandangan Stasiun Jakarta Kota yang dibangun pada masa kolonial Belanda, lengkap dengan para pengojek sepeda tua atau sepeda kumbang yang biasa mangkal di sekitar stasiun.
Di sebelah kiri seberang stasiun, pandangan tertuju pada Museum Bank Mandiri, bangunan bergaya Art Deco dengan luas 21.509 m2. Rasa kagum terus membawa langkah kaki menuju Museum Fatahillah, museum yang kini bernama Museum Sejarah Jakarta.
Tak Ada Lapangan, Museum Pun Jadi
Di sekitar bangunan yang dahulu pernah digunakan sebagai kantor berita VOC ini ternyata banyak hal yang menarik. Mulai dari “Romeo and Juliet” yang asyik memadu kasih, tak peduli walaupun harus bersandar pada pilar museum atau duduk di bawah meriam kuno. Komunitas Scooters ( pecinta vespa) yang kongkow di halaman museum, hingga anak Kota Intan yang terpaksa bermain sepak bola di depan pintu masuk museum. Ironis memang. Ditengah pembangunan infrastrukrur di segala bidang, kebutuhan anak akan fasilitas olahraga seakan tak tersentuh pemerintah.
Sanut, salah satu dari sekitar dua puluh anak Kota Intan yang sedang bermain sepak bola menuturkan, bahwa mereka sudah dua tahun bermain sepak bola di depan pintu masuk museum. Biasanya mereka bermain dari pukul delapan malam hingga pukul duabelas malam. Anak berusia 15 tahun itu menjelaskan, alasan mereka bermain di depan pintu masuk musum karena tidak ada lapangan sepak bola. “Main di sini (museum-red) karena gak ada tempat. Sebenernya kita biasa main di kolong jalan tol dekat Kali Besar, tapi disana banyak batu, udah gitu bau sampah.” Hal senada juga diungkapkan Iko, 7 tahun. siswa kelas 3 SD Pinangsia 03 ini, ketagihan bermain sepak bola di depan pintu masuk museum kerena tidak banyak batu.
Dari Sanut pula diperoleh informasi, anak yang bermain sepak bola berusia 7 tahun, kelas 3 SD hingga 15 tahun, kelas 3 SMP. Termasuk Sanut dan seorang temannya. “Kita sering disalahkan karena disangka ngajak anak yang “kecil-kecil”, padahal mereka yang mau ikut. Klo gak diajak ngambek”, tambah anak yang pertama kali tertarik ikut bermain sepakbola di depan pintu masuk museum karena diajak teman. Selain bermain sepakbola dengan sesama anak Kota Intan, mereka ternyata sering bertanding dengan “anak pasar”, anak dari jalan Tongkol. Bahkan tak jarang mereka taruhan kecil-kecilan. Sanut yang kebetulan tidak ikut bermain sepakbola karena cedera sumringah, “ Hari ini kita juga ngadu, terus menang”.


Kesenangan yang mereka dapatkan disela-sela kegiatan mengisi waktu luang selepas sekolah dan membantu orang tua atau sekedar menghilangkan kepenatan di rumah karena dimarahi orang tua inilah, mereka kerap kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. “Kita sering dikejar kamtib, disuruh pulang. Kamtib suka bawa-bawa pentungan , kadang suka main kata-kata kasar. Salah kita juga sih. Inikan museum, bukan tempat main. Kadang takut ada yang rusak, jadi dimarahin”, ujar siswa kelas 3, SMP Perniagaan. Sanut juga menambahkan, bahwa mereka sering didatangi preman, yang untungnya, datang hanya sekedar untuk menonton saja.
Sungguh memprihatinkan. Ditengah usaha pemerintah untuk mempertahankan situs sejarah sebagai cagar budaya. Justru malah anak-anak bangsa sendiri yang mengancam rusaknya bangunan bersejarah karena digunakan sebagai tempat bermain sepakbola, kota semakin berkembang tetapi fasilitas tidak mencukupi. Namun mereka tidak bisa disalahkan, karena realitanya tidak ada tempat atau sarana olahraga yang bisa digunakan. Ibarat kata pepatah. Tak ada lapangan, museum pun jadi.


Saksi Bisu Itu Bernama Kali Besar
Rute kedua melewati Museum Wayang, kemudian melewati jalan di tepi Kali Besar. Kali yang berada di kawasan kantor-kantor dagang VOC dulu ini merupkan bagian kanal yang dibangun oleh J.P. Coen untuk sarana transportasi, benteng pertahanan, dan tempat mengalirkan air Sungai Ciliwung saat banjir.
Sejauh mata memandang, di sekitar Kali Besar banyak fenomena sosial yang tampak. Tidak hanya kalangan kelas atas yang ingin merasakan nikmatnya dugem di tengah hingar bingar diskotek, rakyat kelas bawah pun membuat tandingan orkes dangdut yang tak kalah ramainya. Tentu saja yang datang adalah warga kampung sekitar termasuk para pengojek sepeda tua. Seolah tidak mau kalah dengan “mami” dan “anak-anaknya” yang berusaha menggaet pelanggan di depan sedan mewah, para waria pun gencar menjajakan diri, nangkring duduk disepanjang pembatas Kali Besar sambil menggoda lelaki yang lewat didepannya, sungguh menggelikan. Para muda-mudi dari masyarakat kelas bawah juga terlihat nogkrong di sepanjang Kali Besar dan warung remang-remang. Tak ada bedanya dengan kaum borjuis yang mamadati café-café di pelataran parkir pinggir Kali Besar.
Fenomena tersebut sudah bisa menjelaskan, bahwa gaya hidup masyarakat kelas bawah tak dapat dipisahkan dari pengaruh gaya hidup kaum borjuis. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Kali Besar merupakan saksi bisu sejarah dan fenomena sosial yang ada di Kota Tua dari tempo dulu hingga kini.
Persinggahan Terakhir, Sunda Kelapa
Malam semakin lunglai. Warnanya yang hitam kian mencium bumi. Lepas dari Kali Besar, langkah kaki selanjutnya menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Pemandangan menarik lainnya ditemui ketika melewati sebuah jembatan jungkit yang lebih dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan tersebut dahulu dapat dibuka dan ditutup. Jenbatan tersebut dibuka bilamana ada kapal yang akan melintas, namun sekarang tidak digunakan lagi. Suasana di sekitar Jembatan Merah tak jauh berbeda dengan suasana sekitar Kali Besar. Tak jauh dari Jembatan Merah terdapat Menara Syahbandar.
Tiba di persinggahan terakhir, Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan yang berdiri sejak tahun 1752 ini tampak sepi pada malam hari. Tak ada aktifitas angkut maupun bongkar muat. Para awak kapal dan nahkoda tidur di geladak. Namun sensasi berbeda dirasakan saat mata dimanjakan oleh gemerlap lampu kota dari atas kapal yang sedang merapat.
Warisan Sejarah
Jalan menuju pulang menggunakan rute yang berbeda, melewati jalan Tongkol, jalan Teh, dan jalan Lada. Selain untuk memperkaya pandangan, juga menghindari kebosanan. Tak ada salahnya melihat lebih dekat bangunan-bangunan klasik yang telah menjadi bagian dari sejarah dan perkembangan Ibu Kota Jakarta. Kita akan mendapat pengetahuan baru tentang sejarah dan fenomena sosial Kota Tua.
Satu harapan yang terbersit dalam benak, berharap makin banyak pihak yang termasuk pemerintah yang peduli dengan keberadaan bangunan-bangunan tua dan bersejarah khususnya di Jakarta. Agar warisan sejarah bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Kenangan terindah ketika semua belum berakhir
Aku rindu memeluk kalian...

Tanjidor Kian Tergerus Zaman

Alunan tanjidor kini dihadapkan pada suara jaman yang sedang berubah. Semakin tak terlihat dan lirih mengiringi jalannya waktu.
Apa yang melekat dalam benak kita ketika menyebut kesenian Betawi? Baik dulu sampai sekarang tak jauh dari ondel-ondel, pantun, dan tanjidor. Kesenian musik yang disebut terakhir ini kadung dikenal sebagai simbol representasi Betawi.
Sekarang, dapatkah tanjidor ditemui dengan mudah? Hanya bila ada pameran budaya, upacara pernikahan ala Betawi atau penyambutan tamu penting. Tergesernya budaya-budaya lokal memang konsekuensi dari perubahan jaman.
Tanjidor Tiga Saudara, salah satu kelompok tanjidor di daerah Srengseng Sawah, Jakarta Timur, sedang gigih berusaha menggaungkan tanjidor ditengah arus deras modernisasi. Berdiri sejak 1973, grup ini selalu membuka penampilannya dengan lantunan irama mars. Setelah itu barulah mereka melatunkan tembang-tembang yang cukup terkenal seperti "Jali-Jali" dan "Kicir-Kicir".
Saat alunan tanjidor memecah kesunyian kampung, para pemain sesungguhnya tengah khawatir. Perlahan kesenian ini makin terpinggirkan dan tak lagi dilirik orang. Sebagai perbandingan, pada 1970-an, grup ini hampir tampil setiap hari karena banyaknya warga yang meminta.
Kala itu, mereka bisa menyandarkan hidup dari bermain tanjidor. Kini dalam sebulan rata-rata mereka hanya tampil dua kali, kecuali jika ada acara tertentu semisal perayaan tahun baru.
“Biasanya abis tahun baru banyak job-nya, minimal lima kali. Kalau bulan-bulan ini lagi sepi,” tutur Minan, salah satu anggota Tanjidor Tiga Saudara.
Minan adalah sosok dari sedikit generasi muda yang tertarik tanjidor. Lelaki berusia 28 tahun ini menjadi pemain tanjidor karena ingin melanjutkan cita-cita ayahnya, mempertahankan kesenian ini. Sekarang Minan mulai belajar mengurus grup Tanjidor Tiga Saudara.
“Dia yang nyari order, ngumpulin pemain, nyiapin peralatan dan kostum dan hal lainnya,” ujar Sait, ayah dari Minan yang juga anggota Grup Tanjidor Tiga Saudara.
Penghasilan yang mereka dapat dari tanjidor tergolong sedikit. Untuk satu kali main mereka mendapat bayaran berkisar 3-5 juta. “Itu juga dibagi ke anggota-anggota sebanyak 9-15 orang dan belum termasuk ongkos untuk transportasi,” tandas Minan. Belum lagi biaya perawatan alat-alat tanjidor yang tidak murah.
Kondisi ini jelas membuat mereka tak bisa lagi mengandalkan nafkah dari bermain tanjidor saja. Beberapa di antara mereka terpaksa membanting tulang sebagai kuli bangunan, tukang ojek, hingga membuka bengkel.
Terpinggirkannya kesenian tanjidor ini diiyakan Sahrul, warga Cimanggis, Depok. Pemuda 22 tahun yang turut menyaksikan tanjidor ini mengaku kurang mengetahui tanjidor. “Sejauh ini saya kurang begitu tahu, kalau gambang kromong lebih populer,” ujarnya.
Di Jakarta keberadaan grup tanjidor yang masih eksis bisa dihitung dengan jari. “Untuk saat ini yang terdaftar tinggal empat. Kalau di Jakarta paling yang eksis tinggal dua. Jakarta Selatan ada satu, satu lagi di Jakarta Timur pimpinan Marta Nyaat, sebagian di Tangerang,” papar H. Yoyo Muchtar, mantan ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang juga pembina Badan Pemberdayaan Betawi.
Saat ditanya tentang antusiasme masyarakat, ia mengakui bahwa masyarakat masih antusias melihat tanjidor tetapi dengan pandangan aneh. “Kebanyakan orang heran. Heran dan bingung, mau main gak bisa. Bagaimana caranya membuat masyarakat suka tapi dia punya faktor kesulitan yang sangat banyak kemudian mau belajar ragu-ragu,” tambah Yoyo.
Ditemui di lokasi pembukaan MTQ ke-7 tingkat Kota Depok, Kelurahan Duren Seribu, Sawangan, Mawardi, Lurah Gandul, Jakarta Timur, berpendapat daya tarik tanjidor sudah berkurang. Sekarang justru daya tariknya adalah ondel-ondel, karena ondel-ondel terlihat lucu. Tanjidor hanya berperan sebagai pengiring agar tidak terlalu vakum.
Tanjidor menghadapi tantangan yang semakin berat. Kesenian itu semakin berjarak dengan pendengarnya yang hidup di masa yang berbeda. Serbuan hiburan-hiburan alternatif, terutama dangdut, lebih mendapat tempat di hati masyarakat, apalagi generasi muda. Berbagai acara yang ditujukan untuk kaum muda selalu menampilkan band, cheerleaders, dan modern dance. Tak pernah sekalipun menampilkan tanjidor. Tanjidor dianggap tidak sesuai dengan selera anak muda sekarang.
Penyebab tanjidor tidak bisa melesat seperti jenis kesenian Betawi lainnya karena fungsi ekonomi tanjidor lemah. Sangat tergantung saweran dari penonton atau pengiring acara sunatan, kawinan dan sebagainya. Banyak orang tua melarang anaknya menjadi seniman tanjidor karena tidak menjanjikan.
“Padahal itu (tanjidor –red) terdapat pembinaan norma budaya yang gak ada di sekolahan. Itu pembinaan norma budaya yang datang dari diri kita sendiri ingin berbagi sesuatu bukan mata pencaharian, tapi ketika itu menjadi mata pencaharian itu bukan permasalahan,” jelas Yoyo.
Pemain tanjidor sudah jarang karena sulitnya regenerasi. Selain banyak yang telah meninggal, pemainnya pun sudah uzur. Rumitnya memainkan alat tanjidor menyebabkan sulitnya mencari bibit baru. Mau tak mau seniman tanjidor memang harus berbakat di bidang musik modern.
Grup Tanjidor Tiga Saudara hanya membina empat orang anak muda, berusia antara 17 hingga 18 tahun. Sait sangat menyayangkan hal ini. “Anak muda memang ga ada pikirannya untuk sayang, anak kita sendiri aja nggak apalagi anak orang,” keluh Sait.

Sait sendiri menekuni tanjidor sejak kanak-kanak. Belajar memainkannya bertahap. “Saya dari SD udah belajar, ikut kakak saya latihan, terus pas kakak saya meninggal, saya yang gantiin,” kenangnya.
Pengajaran dimulai dari memainkan alat musik ringan sampai alat musik tiup. Sait cukup lama mempelajari alat tanjidor. “5 tahun lebih, baru saya belajar niup, bisa niup baru bisa pindah ke tenor, tenor udah bisa baru belison, terakhir clarinet, ” papar Sait.
Kesulitan mempelajari alat musik sebagai faktor susahnya regenerasi seharusnya menjadi perhatian Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI. Hal ini yang tidak dirasakan para seniman tanjidor.
“Belajarnya susah, yang belajar kebanyakan nggak mau. Kalau dari dinas sama sekali nggak ada pelatihan,” tandas Minan.
Ia juga menjelaskan, selama ini mereka mendapat bantuan alat musik saja, namun dalam hal pembinaan sangat kurang. Hal ini dibenarkan oleh Yoyo yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Sub Bidang Pengembangan Potensi Budaya di LKB.
“Perkembangan musik betawi khususnya tanjidor itu memang dirasakan dari sisi pembinaan itu sangat-sangat kurang, kemudian generasi penerusnya pun regenerasinya sangat kurang,” tutur Yoyo.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, Taufik Syamsul Bakri menanggapi bahwa masalah sulitnya regenerasi bukan terletak pada respon masyarakat dan generasi yang kurang, tapi soal waktu.
“Sebenarnya bukannya kurang mereka, cuma waktunya yang mungkin belum sempat ada. Sebagai contoh keroncong, keroncong itu bisa dilestarikan bila di anak muda bisa eksis terhadap kebudayaan tersebut,” ucap Taufik.
Seperti yang dikatakan Taufik, pemerintah mengaku sering menggelar pentas-pentas seni yang diakui sebagai bentuk dukungan perkembangan kesenian.
Tetap, peran pemerintah dibutuhkan untuk membina atau memberi ruang untuk berkembangnya kesenian lokal seperti tanjidor. Efektif tidaknya upaya itu, yang pasti tanjidor telah memudar kepopulerannya.

Desy Yuliastuti
Diterbitkan di Rubrik Seni Budaya
Majalah Didaktika/35/2008

Senin, 06 April 2009

...Bring My Bonny to Me..

Setelah sekian lama....akhirnya Allah mengabulkan doa gw. Nyokap ijinin gw buat miara kucing lagi. Jujur, selama ini gw kesepian banget. Setelah mengalami beberapa peristiwa yang membuat mental gw tambah kuat (sekaligus semakin parah), gw ngerasa belum menemukan hal, benda, manusia atau sesuatu yang pas supaya gw bisa membagi sayang yang gw punya. semua yang diharapkan memang belum tentu menjadi kenyataan dan sesuai apa yang gw mau. Gw juga gak bisa menuntut kenyataan mengikuti semua jalan pikiran gw. Cuma gw butuh penyaluran emosi yang selama ini gw pendam dan gak bisa gw kasih ke orang lain karena beberapa trauma.

Gw merasa sesak setelah tidak lagi berteater. Gw merasa haus setelah sekian lama tidak menulis karena kekosongan batin. Gw merasa hedon setelah bergaul dengan teman-teman yang kerjanya fun melulu, sementara dulu tiap hari gw diskusi, kadang-kadang hunting, nulis berita, menjelajah malam, ke ultah AJI, diskusi di persma-persma, baca buku berat, liputan, dan segalanya yang bikin gw ada....sekarang gw merasa kosong banget. Gw juga bingung karena persolan keluarga. Dan kadang gw benci mereka semua karena mereka gak pernah merasakan jadi gw yang mencoba membentuk diri sendiri dan mencoba mengambil jalan yang benar tanpa kehangatan sebuah keluarga..... dan semua tak punya cara yang tepat (bukan untuk mengerti) untuk sekedar mengetahui apa yang gw rasakan, itu sudah cukup...

Back to the title....kemarin (5/3) ada penghuni baru di rumah. Namanya BONNY, kucing hasil buah nafsu kucing aggora dan kucing kampung. Dengan keikhlasan hati dan segenap cinta....alaaahh....gw rela menukar si BUNTEK, kura-kura yang selama tiga tahun menemani hidup gw, dengan si BONNY. Kucing itu semula tinggal dengan hair stylist langganan nyokap, karena putrinya sangat ingin kura-kura jadi si BUNTEK ditukar dengan si BONNY ditambah dua buah tas sekolah....padahal sebelum si BUNTEK gw pernah kasih kura-kura gw, si USREK, lantas ditaruh di kolam ikan. Tapi esok paginya si USREK hilang entah kemana...mungkin ia mencari jalan pulang..
Setelah ada si BONNY, gw bisa senyum tulus lagi sekarang....gw harap mpus bisa menemani hari-hari gw selama refreshing sejenak di rumah. kayaknya sih dia suka ma gw, soalnya kemaren dia naik ke kasur, main-main rambut gw plus colek-colek muka gw....sampai akhirnya gw bangun...hehehe..


BONNY THE CAT







Dan inilah si BONNY, yang hobinya makan, main, dan tidur. Maklum, namanya juga anak-anak.....Miauuuwww..

Rabu, 01 April 2009

Sudah Salah Kok Tetap Dipasang?!

KPU gencar menyosialisasikan aturan mencontreng untuk memilih di Pemilu 2009. Mulai dengan membuat iklan di televisi, koran, hingga merambah ke dunia maya melalui situs You Tube, dll. Bagai pinang dibelah dua, hal yang sama juga dilakukan para caleg. Spanduk promosi dengan foto diri yang mereka rasa paling ganteng, paling cantik, paling wibawa, atau paling kerenlah pokoknya, dicetak (besar-besar, bagi yang berkantong tebal) dengan slogan dan janji-janji manis. Hemmm....Ngakunya sih, jujur, bersih, memperjuangkan hak rakyat...bla...bla...dan layak dicontreng. Tapi coba lihat spanduk yang saya temukan di depan gerbang Komplek Pelni, Jalan Ir. H. Juanda, Kota Depok :



Sudah Salah Kok Tetap Dipasang?!




Spanduk caleg seperti ini bisa membingungkan masyarakat, dan sudah jelas berlawanan dengan peraturan KPU. Lihat saja tulisannya, COBLOS bukan CONTRENG. Lebih aneh lagi, tulisannya COBLOS, tapi di nomor urut dan kolom nama ditandai dengan CONTRENG. Bagaimana bisa caleg seperti ini 'Peduli Pendidikan' sedangkan memberikan pendidikan politik mengenai peraturan Pemilu saja sudah salah. Bikin spanduk saja ngawur, bagaimana kerja-kerjanya nanti?



Entah...Apakah karena terlalu banyak uang dan kelewat percaya dengan tim sukses, atau tukang desain spanduknya ngantuk, atau memang sengaja seperti ini supaya jadi sensasi??? Hanya Tuhan, tim sukses, dan tentu dia sendiri yang tahu jawabannya.


Duuuh...gimana niyh??? Katanya 'Profesional', tapi kok masih terjebak pada romantisme masa lalu?